Meditasi Mengubah Otak


Posted by Titania Febrianti on January 28, 2011

Menjelang sore setiap Selasa, cobalah mampir ke lantai delapan kantor gedung Gramedia Majalah. Alunan mantra diiringi musik khas Tibet nan membuai hati akan mengalir dari celah-celah pintu ballroom. Musik ini mengantarkan para peserta kelas yoga untuk berkonsentrasi mengikuti gerakan-gerakan nan gemulai—namun bisa jadi amat melelahkan—di dalam ruang.

Inilah saat yang saya tunggu-tunggu dalam satu minggu, salah satu cara untuk membugarkan dan melenturkan tubuh, melepaskan diri dari rutinitas di ruang kerja. Ternyata, banyak hal lain yang bisa didapatkan dari kegiatan yang satu ini loh, seperti melatih konsentrasi—misalnya saat melatih keseimbangan dengan gaya ‘ajaib’ di atas satu kaki—serta bermeditasi.

Dan tahukah Anda, bahwa melakukan program mindfulness meditation dalam jangka waktu delapan minggu bisa mengubah struktur otak? Perubahan di area otak yang antara lain terkait dengan ingatan, empati, dan stres ini bahkan bisa diukur untuk pertama kalinya oleh peneliti dari Massachusetts General Hospital, AS.

“Walaupun penerapan meditasi diasosiasikan dengan perasaan tenteram dan relaksasi fisik, para praktisi telah lama menyatakan bahwa mindfulness meditation juga memberikan keuntungan kognitif dan psikologis yang bertahan seharian,” ujar Sara Lazar PhD, dari MGH Psychiatric Neuroimaging Research Program.

Struktur otak 16 partisipan ditangkap dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dua minggu sebelum dan sesudah mengikuti Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) Program di University of Massachusetts Center for Mindfulness. Rekaman gambar otak juga diambil dari grup yang tidak melakukan meditasi, dalam interval waktu yang mirip.

Analisis MRI menemukan adanya kepadatan substansi kelabu (grey matter) yang meningkat di hipokampus—yang penting bagi proses pembelajaran serta ingatan—dan dalam struktur yang berhubungan dengan kesadaran, rasa kasihan dan introspeksi.

Berkurangnya stres yang dialami peserta juga terkait dengan penurunan kepadatan substansi kelabu di amigdala, yang diketahui memainkan peran penting dalam kegelisahan dan stres. Tidak satu pun perubahan ini terlihat di grup yang tidak melakukan meditasi.

Di Universitas Gadjah Mada, sebuah penelitian pernah dilakukan pada tahun 2007 untuk melihat pengaruh pelatihan mindfulness meditation terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa kelas tiga SMA Negeri 1 Pleret yang selamat dari gempa bumi tanggal 27 Mei 2006. Hasil penelitian mengungkap, meditasi ini memang berguna untuk menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan.

Jadi, mari beryoga dan bermeditasi!

Sumber: Situs Universitas Gadjah Mada, situs Massachusetts General Hospital, www.nmr.mgh.harvard.edu.


Posted in Uncategorized | 12 Comments »

Antartika, Benua Terdingin di Bumi


Posted by Titania Febrianti on December 14, 2010

13 Desember 2010.

Malam telah larut. Jarum jam sudah menunjuk angka satu dini hari. Saya terpaku di depan komputer. Di layar terpampang orang-orang yang duduk, juga kadang lalu-lalang. Di headphone saya, suasana tak seperti layaknya jam satu malam. Suara gitar, nyanyian, tawa, dan canda teriring musik, saling tindih satu sama lain, seolah berusaha menepis kegelisahan di sanubari masing-masing. Terhubung melalui Skype, saya menunggu kabar melalui sekretariat Mahitala-Unpar, Bandung, dari orang-orang Indonesia pertama yang akan menapakkan kaki di puncak Gunung Vinson, gunung tertinggi di lempeng Benua Antartika.

Antartika merupakan benua terdingin, terkering, sering diembus angin kencang, juga mengandung es terbanyak di Bumi. Pada tanggal 21 Juli 1983, Vostok Station—sebuah stasiun milik Rusia yang terletak di tengah lempeng es Antartika Timur—mencatat temperatur terendah di muka Bumi, yaitu dengan kisaran -89,2 derajat Celcius. Dibangun sejak tahun 1957, stasiun itu mengadakan penelitian utama bekerjasama dengan pihak Prancis serta Amerika. Para peneliti melakukan pemboran menuju inti es, menembus lapisan sedalam 3,711 kilometer, guna memperoleh catatan iklim dalam kurun waktu hampir setengah juta tahun yang lalu.

Angin juga tak ragu berlari sekencang-kencangnya di benua yang terletak di Kutub Selatan Bumi ini. Di Teluk Commonwealth, pantai George V, tenggara Kutub Selatan, angin pernah tercatat berembus dengan kecepatan 200 mil per jam atau 321 kilometer per jam. Benua ini juga disebut benua terkering, karena hanya memiliki curah hujan rata-rata 50mm per tahun (bandingkan dengan Jakarta yang bisa memiliki curah hujan 100mm per dua jam, yang mengakibatkan munculnya banyak genangan pada tanggal 25 Oktober silam). Lapisan es paling tebal pun ditemukan di Wilkes Land yang lokasinya tak jauh dari Commonwealth Bay, dengan kedalaman 4,776 kilometer.

Bertolak dari Jakarta pada tanggal 28 November 2010, empat orang mahasiswa serta seorang alumni Unpar bertolak ke titik tertinggi Benua Antartika, yaitu Gunung Vinson yang memiliki ketinggian 4.892 meter di atas permukaan laut, sebagai salah satu upaya untuk menyambangi tujuh puncak tertinggi di tujuh lempengan benua planet ini.

Sempat tertahan di Union Glacier atau Patriot Hills (tempat pertama kali mereka mendarat di benua ini) selama satu malam, serta di salah satu titik pemberhentian saat menuju puncak, yaitu Vinson Base Camp selama 3 malam karena cuaca buruk, melalui cybercast yang diluncurkan oleh AAI (Alpine Ascent International) pada pukul 4.30 dini hari (sekitar pukul 18.30 waktu setempat), ternyata saat ini mereka masih menunggu agar cuaca menjadi lebih bersahabat, untuk melakukan pendakian akhir ke puncak. Semoga saja cuaca menjadi ramah, hingga malam berikutnya sang Merah Putih dapat menari-nari bersama angin untuk pertama kalinya di titik tertinggi Benua Antartika.

Dari berbagai sumber.


Posted in Uncategorized | 17 Comments »

Kilas Balik 2008


Posted by Titania Febrianti on December 2, 2010

Hari Pisang

Akhir April 2008. Janji dengan Amy Estiati sudah dibuat. Ia adalah seorang peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong. Hari ini bintang kami adalah pisang. Buah ini menjadi objek penelitian Amy berkaitan dengan vaksin hepatitis B yang dikembangkan di dalamnya. Idenya, vaksin dalam bentuk pisang akan lebih mudah distribusikan ke pedalaman, menjangkau masyarakat daerah dengan lebih mudah, tanpa harus diperlakukan secara khusus.

Sebelum melangkah lebih jauh ke kompleks LIPI Cibinong, pagi itu saya mampir ke pasar untuk membeli tiga sisir pisang lampung (Musa sp.), sebagai model pemotretan. Sampai di ruangan Amy, ternyata di lantai sudah tergeletak setandan besar pisang lampung. “Mbak, tadi aku titip sama orang, buat cadangan. Ternyata dibawainnya setandan,” ucapnya. Jadilah lantai ruang Amy yang sudah cukup sempit disesaki oleh pisang di sana sini.

Tak berapa lama kemudian fotografer Sidup Damiri datang. Pemotretan pun dimulai. Sang bintang diabadikan dalam berbagai pose. Selanjutnya muncul masalah baru pun muncul: irisan bonggol pisang penelitian di dalam cawan hanya boleh dibuka dalam kotak laboratorium yang steril. Kamera dan lampu tak boleh melewati area ini. Petugas laboratorium pun dikerahkan untuk mengatur pose bonggol-bonggol pisang dengan peralatan yang tentunya steril pula. Lensa kamera dijaga agar tidak melewati batas. Setelah berkutat berjam-jam, semua foto yang diinginkan berhasil didapat. Pisang-pisang itu kembali ke tempatnya semula, di ruangan milik Amy.

Tak terasa, sore hampir menjelang. “Kantin biasanya sudah tinggal sedikit makanannya,” ujar Amy. Akhirnya, para model pun kami lahap. “Bawa pulang saja mbak,” kata Amy sambil memenuhi sebuah kantung plastik dengan pisang. Masih banyak lagi yang bertebaran di sudut ruangannya. Astaga, malas benar rasanya melihat pisang hari itu…


Posted in Uncategorized | No Comments »

Bersih Justru Mendatangkan Penyakit


Posted by Titania Febrianti on December 2, 2010

Menurut penelitian University of Michigan School of Public Health, anak muda yang terlalu sering menggunakan sabun antibakteri mengandung triclosan bisa jadi malah menderita lebih banyak alergi.

Triclosan adalah senyawa kimia yang digunakan secara luas dalam produk seperti sabun antibakteri dan odol. Sebenarnya bahan kimia ini berada dalam golongan bahan yang merusak lingkungan—disebut endrocrine-disrupting compounds (EDCs)—yang dipercaya memiliki akibat negatif terhadap kesehatan manusia dengan cara meniru atau memengaruhi hormon.

Peneliti juga menemukan bahwa orang di bawah 18 tahun dengan tingkat ekspos tricosan yang lebih tinggi cenderung lebih sering dilaporkan mengalami alergi dan hay fever. Kini mulai dikhawatirkan bahwa EDCs ini berbahaya terhadap manusia pada tingkat rendah.

“Penemuan triclosan dalam kelompok umur yang lebih muda mendukung ‘hygiene hypothesis’ yang berarti hidup dalam lingkungan yang amat bersih dan higienis bisa memengaruhi ekspos terhadap mikro organisme yang penting bagi pertumbuhan sistem imunitas,” ujar Allison Aiello, associate professor pada U-M School of Public Health dan peneliti utama jurusan ini.

Sebagai agen antimikroba yang banyak ditemukan di banyak produk rumah tangga, triclosan bisa jadi memainkan peran dalam mengubah mikro organisme yang memapar kita dengan suatu cara yang justru memengaruhi perkembangan sistem imunitas kita.

Sumber: Situs University of Michigan School of Public Health


Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Sirip Paus Bungkuk untuk Baling-baling


Posted by Titania Febrianti on December 1, 2010

Populasi global diproyeksikan akan mencapai angka tujuh miliar jiwa pada tahun 2011. Pencarian akan sumber energi alternatif pun terus dikembangkan. Salah satunya ialah teknologi untuk mengubah energi arus pasang surut laut menjadi listrik dengan menggunakan baling-baling. Namun, tantangan muncul terkait teknologi ini: arus pasang selalu memiliki kecepatan lambat dan energi sulit dihasilkan dari arus yang pelan.

“Kami mendesain modifikasi baling-baling baru untuk penambahan performa baling-baling agar potensial,” jelas profesor rekayasa US Naval Academy, Mark Murray. Modifikasi ini terinspirasi oleh paus bungkuk. Baling-baling tersebut dilengkapi dengan tuberkel atau tonjolan-tonjolan di tepiannya, mirip dengan tonjolan-tonjolan yang ada pada sisi terluar sirip paus tersebut.

Melalui percobaan yang dilakukan di tangki sepanjang sekitar 35 meter di US Naval Academy, tiga jenis baling-baling (satu baling-baling polos serta dua jenis lainnya dilengkapi oleh tuberkel yang telah dimodifikasi), diuji dan diperbandingkan. Dari semua kriteria pengujian, baling-baling yang memiliki tuberkel ternyata mengungguli baling-baling biasa dan terbukti lebih efektif mengekstrak energi dalam kecepatan rendah.

Hasil dari percobaan ini telah dipresentasikan dalam pertemuan American Physical Society’s Division of Fluid Dynamics (DFD) di Long Beach, California pada tanggal 22 November silam, yang diselenggarakan oleh Bulletin of the American Physical Society.

Biomimetik atau desain buatan manusia yang meniru desain alam, telah banyak dilakukan demi kemajuan teknologi. Sebelumnya, ide sirip ikan paus bungkuk dengan tuberkel ini pernah diterapkan oleh ahli biomekanika Amerika Serikat Frank Fish dalam rancangan bilah turbin yang digerakkan oleh tenaga angin untuk menghasilkan listrik.

Bentuk ikan kotak yang dinamis juga pernah mengilhami rancangan mobil Mercedes Benz berkonsep bionic untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar secara signifikan.

Buah anjang (Xanthium sp.) yang menempel di bulu anjing serta celana panjang George de Mestral ternyata memiliki kait kecil di ujung duri, menginspirasinya pada 1948 untuk menciptakan velcro.

Selain itu, sisik mirip gigi yang ada di kulit hiu atau disebut dentikula dermal, ternyata berfungsi mengurangi friksi. Hal inilah yang menginspirasi desain baju renang yang digunakan oleh peserta olimpiade, untuk mengurangi gaya hambat sehingga kecepatan pun meningkat.

Sumber: situs Bulletin of the American Physical Society
Majalah National Geographic Indonesia, April 2008, Desain Alam.


Posted in Uncategorized | No Comments »

Nasib Naskah Nusantara


Posted by Titania Febrianti on November 4, 2010

Jangan pernah mengira bahwa mendata naskah kuno yang ada di tangan masyarakat setempat semudah membalikkan telapak tangan. Prof Dr Titik Pudjiastuti, yang tanggal 3 November 2010 dikukuhkan sebagai guru besar tetap Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI di Depok dan timnya, tahu betul bahwa hal ini membutuhkan kesabaran, keuletan, dan pendekatan khusus.

“Kadang membutuhkan waktu berhari-hari untuk mendekati masyarakat sebelum kami bisa mendokumentasikan naskah-naskah itu,” jelasnya. Hal ini terjadi karena kadang penduduk takut, orang lain akan merampas naskah kuno milik mereka yang antara lain berisi teks legenda, teknologi, obat-obatan, ramalan, bahkan ilmu tua (mantra, primbon dan jimat), yang telah dijaga secara turun temurun tersebut.

Di satu pihak, kehati-hatian masyarakat ini bisa menjadi suatu hal yang patut kita “syukuri”. Karena antara lain di Aceh serta Riau, naskah kuno ini bisa jadi dengan mudahnya berpindah tangan ke orang yang datang berburu dari negara-negara tetangga. Ditukar dengan segepok uang, mereka pun berhasil membawa naskah nusantara ke negeri mereka masing-masing.

Penduduk pun kerap tidak mengerti, bahwa naskah kuno itu adalah identitas budaya mereka. “Kadang naskah tersebut dikarungkan dan mereka bakar,” keluh Titik. Hal ini terkait hilangnya ikatan emosional dengan leluhur mereka, para penulis naskah. “Salah satu usaha kami sebagai peneliti adalah memberi pengertian kepada mereka, bahwa mereka adalah penjaga naskah, jadi jangan sampai naskah-naskah itu dihancurkan atau dijual,” lanjutnya.

Apa yang harus dilakukan agar koleksi yang tak ternilai tersebut tetap terjaga? “Selain memberi pengertian kepada masyarakat, pemerintah daerah seharusnya membuat museum kedaerahan berisi kotak-kotak naskah bebas asam agar koleksi masyarakat bisa diletakkan di sana, tidak rusak oleh serangga atau cuaca, dan kegiatan ini harus berbasiskan masyarakat. Jadi anak cucunya pun masih bisa terus melihat koleksi tersebut,” jelas Titik penuh harap.

Selain minimnya perhatian, dalam melakukan pendokumentasian naskah Titik juga merasakan kurangnya dukungan pemerintah dan lembaga nasional dalam segi pendanaan. Dana bagi peneliti justru datang dari lembaga-lembaga asing. “Padahal kami berlomba dengan waktu sebelum naskah-naskah tersebut hancur dimakan waktu atau berpindah tangan,” ungkapnya.


Posted in Uncategorized | 4 Comments »

Perubahan Iklim & El Nino Modoki


Posted by Titania Febrianti on October 20, 2010

Tahun lalu, jurnal Nature mempublikasikan tulisan yang menyatakan bahwa perubahan iklim ada di balik pergeseran El Nino menuju El Nino Modoki. El Nino, gejala anomali peningkatan suhu di Samudra Pasifik bagian timur secara periodik, telah berubah bentuk menjadi apa yang sekarang disebut peneliti sebagai El Nino Modoki (dari istilah bahasa Jepang: serupa namun berbeda), yaitu El Nino yang lebih kuat di Samudra Pasifik bagian tengah dibandingkan dengan yang terjadi di bagian timur.

Sementara temuan itu masih diperdebatkan, Nature Geoscience baru-baru ini menyajikan fakta bahwa El Nino Modoki menggerakkan sebuah pola iklim yang dikenal dengan nama North Pacific Gyre Oscillation (NPGO), yang memiliki pengaruh penting terhadap distribusi persediaan ikan dan nutrisi laut di Pasifik.

NGPO adalah istilah yang diciptakan oleh Emanuele Di Lorenzo, associate professor di School of Earth and Atmospheric Sciences, Georgia Institute of Technology. Dalam Geophysical Research Letters ia menjelaskan perubahan sirkulasi di timur laut Samudra Pasifik dengan jangka waktu panjang untuk pertama kalinya. Menurut Lorenzo, data yang mereka miliki menunjukkan bahwa semakin intens El Nino Modoki di Samudra Pasifik bagian tengah berlangsung, semakin intens pula NGPO terjadi. Hal ini pun mengakibatkan adanya transisi dramatis pada ekosistem pesisir pantai.


Posted in Uncategorized | 4 Comments »

Suatu Senja di Yogyakarta


Posted by Titania Febrianti on October 20, 2010

Saya tak pernah menyangka, artikel yang pernah saya garap untuk majalah NGI edisi April 2009 akan membuka pikiran dan menyelamatkan beberapa nyawa, setidaknya nyawa teman-teman mungil kita.

Duduk di lantai dingin di sebuah rumah limasan di kawasan Sleman, Yogyakarta, saya sedang asyik menikmati suasana rumah milik seorang kawan yang amat nyaman saat sesosok makhluk kecil sekepalan tangan melompat-lompat di ujung ruangan. Beberapa saat kemudian, temannya tampak melintas halaman belakang, menuju rerumputan.

Lebih mengagetkan lagi bagi saya, saat anak pemilik rumah menunjuk ke atas lukisan yang terpampang di dinding ruang depan. Loh, ada seekor katak pohon di ujung pigura! “Kalau siang mereka suka ngumpet di sini,” ujar kawan saya. Telunjuknya mengarah ke sela-sela perabotan.

Mengapa katak dibiarkan bebas berseliweran di rumah yang terbuka ini?

Awalnya kawan saya tak suka mereka. Semua katak diusir dari rumahnya. Suatu hari, saat lembaran artikel tentang katak Indonesia yang terkena jamur chytrid terkuak di hadapannya, ia membaca dan menemukan gambar salah satu katak yang ternyata hidup di sekeliling rumahnya. Di area Jawa Barat sendiri, katak jenis ini sudah menurun populasinya karena terinfeksi.

Sejak saat itulah ia membiarkan katak-katak tetap hidup dan masuk ke dalam rumahnya. Kini, akibat yang ia rasakan lebih jauh lagi. Selain si kecil jadi bisa mengenal binatang ini lebih dekat, nyamuk pun tak lagi ada di rumahnya. “Tak perlu bahan kimia lagi untuk mengusir nyamuk,” ujar kawan saya sambil tersenyum lebar.

Senangnya hati saya.


Posted in Uncategorized | 6 Comments »

Fakta Bunga Bangkai


Posted by Titania Febrianti on August 12, 2010

Bunga bangkai raksasa mekar di Kebun Raya Bogor pada akhir Januari 2010

dengan

BUNGA RAFFLESIA (Rafflesia sp) yang merekah melebar di atas tanah.

Bunga rafflesia padma berhasil mekar di Bogor pada 20 Juni 2010, di luar habitat aslinya berkat kerja keras peneliti LIPI

 

Padahal kedua jenis tanaman ini amatlah berbeda. Bunga bangkai memiliki daun dan batang, sedangkan bunga rafflesia hidup sebagai parasit pada inang tertentu tanpa batang dan daun.
*

DARI 170 jenis bunga bangkai di dunia, sekitar 25 jenis di antaranya terdapat di Indonesia.

*

DALAM situs Botaniche Gärten Bonn, bunga bangkai raksasa (A titanum) yang merupakan bunga endemik Sumatra ini digunakan sebagai lambang botanical garden tersebut.

*

MENURUT peneliti asal University of Wisconsin, AS, Thomas C Gibson, ada sekitar 6.000 botanical garden dan arboretum di benua Eropa dan Amerika saja, yang mengoleksi bunga bangkai raksasa.

*

SEBUTIR biji bunga bangkai raksasa butuh waktu 20 hingga 40 tahun hingga berbunga untuk yang pertama kalinya.

*

POPULASI serangga penyerbuk bunga bangkai bisa jadi terkait pula dengan keberadaan bangkai binatang hutan. Jika lahan dibuka dan binatang besar semakin jarang, semakin berkurang pula jumlah bangkai dan serangga. Populasi bunga yang diserbuki pun semakin berkurang.

*

WARNA kelopak bunga bangkai raksasa selalu beragam dan tak pernah sama setiap kali mekar walau berasal dari umbi yang sama: merah hati, jingga, merah dadu, dan kehijauan. Sementara tongkolnya pun pernah muncul dengan warna keunguan, agak putih, serta kuning.

*

SESAAT sebelum mekar, suhu di dalam seludang yang belum terbuka bisa mencapai 50 hingga 60 derajat celcius, membuat bunga ini mengeluarkan asap di tengah dinginnya udara pegunungan.

*

SELAIN bau busuk, bau yang dihasilkan oleh bunga bangkai bercampur antara bau yang menyerupai kertas terbakar, amis ikan, telur busuk, bahkan bau harum maskulin.

*

SEBUAH UMBI A titanum yang pernah diselamatkan oleh Tim Peduli Puspa Langka di Bengkulu bobotnya mencapai 100 kilogram, sementara diameternya hampir sebesar roda mobil L300. Delapan orang mengaku kewalahan memindahkan umbi ini dari lahan yang dibuka untuk perkebunan kopi yang disiram herbisida untuk melenyapkan pepohonan serta rumput.

*

BUNGA BANGKAI raksasa tertinggi yang pernah mekar di Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, menjulang hingga 3,45 meter, hampir dua kali tinggi pria dewasa.

*

DI LUAR habitat aslinya, tumbuhan vegetatif (masa berdaun) yang memiliki ketinggian 3 hingga 4 meter bisa menghasilkan bunga setinggi sekitar 2 meter lebih. Yuzammi, seorang peneliti LIPI, pernah menemukan tumbuhan vegetatif yang ketinggiannya mencapai 6 meter di lereng hutan Sumatra.

Bagaimana perjalanan hidup sang bunga bangkai raksasa dan apa bedanya dengan bunga bangkai jenis lainnya di Indonesia? Intiplah usaha para peneliti Indonesia untuk memahami raksasa ini dalam majalah NGI Juni 2010.


Posted in Uncategorized | 5 Comments »

Tempat Sampah Raksasa


Posted by Titania Febrianti on December 15, 2009

Pernahkah Anda berkunjung ke Kebun Raya Bogor? Kunjunganku ke tempat ini sudah tak terhitung lagi sejak menjalankan penugasan dibantu para peneliti LIPI di sana, seperti saat membuat artikel tentang kisah anggrek Cymbidium hartinahianum dalam artikel Anggrek Ilalang Kehilangan Padang edisi September 2009 atau kisah sebutir biji rafflesia yang akan terbit pada edisi Januari 2010.

Setiap kali melewati gerbang kebun raya, mata yang biasanya dijejali oleh riuhnya jalan raya, kepulan asap knalpot, juga rapatnya gedung pencakar langit disuguhi pemandangan menyegarkan : Pepohonan menjulang tinggi dengan tekstur kulit kayu beraneka, belum lagi satwa yang hidup di atasnya. Banyak pohon punya beragam cerita seperti yang dikisahkan para peneliti Kebun Raya: Pohon yang memiliki penyangga di salah satu dahannya, pohon yang rusak kala helikopter berlatih mendarat saat George Bush hendak berkunjung, pohon yang menumbangi rumah kaca, pohon yang datang dari pulau lain di Indonesia, juga pohon unik yang berasal dari belahan lain di dunia.

Di sana, aku selalu menyusur lapangan rumput yang luas terhampar, dengan beberapa balok kayu tergeletak di salah satu sisinya, sisa pohon tumbang. Kadang hamparan rumput hijau itu membentang sepi disela embusan angin. Kadang beberapa kelompok anak muda dengan berbagai atribut aneh berbaris sambil menyimak seniornya berbicara—mungkin sedang diplonco. Kadang sekelompok ibu-ibu berkerudung bersenda gurau di dekat pohon tumbang di atas sejumlah gelaran tikar—mungkin sedang menyelenggarakan arisan. Semua itu hanya selayang pandang sebelum aku sampai di laboratorium kultur jaringan, tempatku biasa berbincang dengan para peneliti.

Beberapa kali aku datang pada hari Jumat. Pada hari yang sama pula aku melihat banyak orang mondar-mandir mengenakan seragam olahraga. Mereka pegawai kebun raya, dugaku. Kadang mereka bekerja berkelompok di beberapa titik di Kebun Raya. Ada kalanya di sekitar pintu gerbang samping. Saat kutanyakan hal ini pada Sofi Mursidawati, peneliti anggrek serta raflesia, bayangan kebun raya yang cantik pun lenyap dalam benakku.

Kebun Raya Bogor yang sunyi dan Pasar Bogor yang hiruk pikuk hanya terpisah oleh sebuah tembok tinggi. Sedihnya, para pedagang seringkali sengaja melempar sampah yang mereka hasilkan hingga akhirnya mendarat di area kebun raya. Para pegawai kebun raya pun harus rela bekerja bakti membersihkan sampah-sampah dengan bau menusuk hidung itu.

“Saya juga tidak tahu bagaimana manajemen limbah industri di sekeliling kebun raya ini,” keluh Sofi. Dulu, kolam di kebun raya dihuni beragam spesies, memenuhi air yang jernih. Beberapa tahun terakhir, warna air berubah menjadi kehitaman. “Kadang baunya menyengat,” ujar Sofi. Binatang pun enggan mendekati kolam. Limbah industri masuk ke dalam, menampakkan minyak di atas air.

Belum lagi jika siswa taman kanak-kanak se-Bogor melakukan kegiatan di kebun raya diiringi orang tua masing-masing. Pada akhir acara kebun raya pun akan berubah menjadi tempat sampah raksasa. “Sulit menyadarkan mereka,” aku Sofi. Mengapa tak beri mereka kantung sampah agar sisa makanan bisa disimpan dan dibuang di tempat sampah? “Kantung pernah kita bagikan, tapi malah kantungnya sendiri yang jadi sampah,” jelas Sofi. “Pernah saya tegur para orang tua, agar anak-anaknya diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Mau tahu jawaban mereka?” tanya Sofi. Saya mengangguk penasaran dan Sofi pun melanjutan, “Kata mereka: Yah, bu, namanya juga anak-anak….” dan pegawai kebersihan kebun raya pun harus kembali bekerja keras agar kawasan ini tampak apik kembali.


Posted in Uncategorized | 20 Comments »